<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://www.gospeltranslation.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
		<id>http://www.gospeltranslation.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Peterdewiho&amp;title=Special%3AContributions%2FPeterdewiho</id>
		<title>Gospel Translations - User contributions [en]</title>
		<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.gospeltranslation.org/w/index.php?feed=atom&amp;target=Peterdewiho&amp;title=Special%3AContributions%2FPeterdewiho"/>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.gospeltranslation.org/wiki/Special:Contributions/Peterdewiho"/>
		<updated>2026-04-04T20:48:26Z</updated>
		<subtitle>From Gospel Translations</subtitle>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>

	<entry>
		<id>http://www.gospeltranslation.org/wiki/The_Author_of_the_Greatest_Letter_Ever_Written/id</id>
		<title>The Author of the Greatest Letter Ever Written/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.gospeltranslation.org/wiki/The_Author_of_the_Greatest_Letter_Ever_Written/id"/>
				<updated>2008-10-29T14:03:01Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Peterdewiho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Penulis Surat Teragung Yang Pernah Ditulis}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Roma 1:1'''&amp;lt;br&amp;gt;Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Waktunya Telah Tiba'''&amp;lt;br&amp;gt;Selama hampir 18 tahun berkhotbah di sini di [gereja] Bethlehem saya telah menunggu dan menunggu waktu yang kelihatannya paling tepat untuk mengkhotbahkan keseluruhan surat Paulus kepada jemaat di Roma. Saya telah mempertimbangkannya berulang kali, dan mengurungkan niat itu – ibarat seorang pendaki gunung yang melihat ke arah awan yang mengelilingi puncak Himalaya lalu mengalihkan pandangan ke puncak yang lebih rendah. Rasanya sangat melemahkan semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di dalam kesabaran dan anugerah dari Allah, beberapa bulan terakhir ini saya merasa sekaranglah waktunya. Kita telah tiba di penghujung milenium. Dan saya telah memasuki paruh kedua dari tiga puluh tahun penggembalaan saya di gereja ini, jika Tuhan menghendakinya. Derap waktu sekarang rasanya lebih cepat pada usia 52 dibandingkan dengan ketika saya memasuki usia 34. Dan injil tentang kemuliaan Kristus, yang merupakan gambar Allah (2 Kor 4:4), kelihatannya bagi saya lebih mulia sekarang daripada sebelumnya. Dan tidak ada eksposisi Injil Allah yang lebih agung daripada surat Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Sejarah Saya Bersama Surat Roma'''&amp;lt;br&amp;gt;Saya mempunyai sejarah pribadi dengan surat Roma yang mungkin akan membangkitkan beberapa dari antara Anda untuk bergabung dengan saya di dalam usaha untuk bertemu dengan Allah dan mengenal Dia dan menikmati Dia dan menaati Dia saat Dia bertemu kita di dalam surat Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pertobatan&amp;lt;br&amp;gt;'''Saya tidak ingat bahwa saya bertobat pada usia 6 tahun di sisi ibu saya di Fort Lauderdale, Florida (sebagaimana diingatkan oleh ayah saya). Saya hanya ingat bahwa saya percaya. Tetapi saya ingat bahwa saya mempelajari arti dari pertobatan saya – dan saya mempelajarinya dari surat Roma: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:23); dan “Upah dosa ialah maut” (6:23); dan “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (5:8); dan “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (10:9). Siapa di antara kita, yang telah merasakan kebaikan dan kemuliaan Allah di dalam Injil yang agung ini, yang tidak menganggap surat Roma ini berharga tiada taranya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Panggilan untuk Pelayanan Firman'''&amp;lt;br&amp;gt;Saya memasuki perguruan tinggi dengan pemikiran mungkin saya akan menjadi dokter atau dokter hewan. Lalu di musim panas tahun 1966, antara tahun kedua dan ketiga saya, seluruh arah kehidupan saya berubah, di dalam pemeliharaan Allah yang menyakitkan dan berharga. Dia memanggil saya untuk pelayanan firman. Musim gugur tahun itu saya telah berjanji akan tinggal bersama dengan tiga orang teman di sebuah kamar asrama untuk empat orang. Tetapi di pertengahan tahun saya tahu saya memerlukan lebih banyak waktu seorang diri untuk belajar dan berdoa sebagaimana saya merasa terdorong untuk belajar. Selama satu setengah tahun kemudian saya tinggal seorang diri di sebuah kamar asrama yang lain. Dan saya ingat di sana – saya dapat melihatnya dan hampir menciumnya – saya membaca buku kuning kecil tulisan John Stott tentang Roma 5-8 yang berjudul Manusia Ciptaan Baru. Efeknya terhadap saya adalah pemateraian panggilan untuk menjadi pelayan Firman Tuhan yang setia. Jadi Roma mengukuhkan pertobatan saya, dan Roma mengukuhkan panggilan saya untuk menjadi pelayan firman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pembentukan Teologia'''&amp;lt;br&amp;gt;Lalu dimulailah seminari pada tahun 1968-1971, dengan semua penemuan yang menakjubkan tentang kedaulatan Allah. Dan di bawah Allah, sumber dari mana semua cahaya baru itu memancar adalah surat Roma – pertama-tama sebuah mata kuliah tentang Roma 1-8, kemudian sebuah mata kuliah klimaks tentang Keutuhan Alkitab yang dibangun di atas Roma 9-11. Ini adalah hari-hari pembentukan teologia yang menentukan di dalam hidup saya. Segala pemikiran saya sejak saat itu berakar dari sana. Jadi pertobatan saya, panggilan saya untuk pelayanan firman, dan pembentukan yang menentukan dari visi saya tentang Allah dimateraikan oleh surat Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Panggilan Penggembalaan'''&amp;lt;br&amp;gt;Lalu, setelah tiga tahun belajar di Jerman dan enam tahun mengajar di Bethel, surat Roma kembali menjadi alat Tuhan yang menentukan ketika saya meninggalkan pengajaran untuk menjadi gembala di gereja ini pada tahun 1980. Saya telah mempelajari Roma 9 selama bertahun-tahun untuk memahami lukisan Allah yang luar biasa di pasal itu. Pada musim gugur tahun 1979, saya diberikan tahun sabat dan bertekad untuk menyelesaikan masalah ini sedapat mungkin, dan menulis sebuah buku tentang Roma 9. Ketika saya menenggelamkan diri di Roma 9 hari demi hari, sesuatu yang sama sekali tidak terduga terjadi. Perkataan yang terus menerus saya dengar secara pribadi adalah, “Saya, Allah dari Roma 9, harus diberitakan, dan bukan hanya dianalisis atau dijelaskan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tanggal 14 Oktober 1979 larut malam setelah Noel tidur, Allah melakukan karya yang menentukan dalam memanggil saya dari mengajar di perguruan tinggi kepada pemberitaan firman di gereja. Ini adalah di tengah-tengah penulisan “Pembenaran Allah: Sebuah Eksposisi Roma 9.” Catatan harian itu berbunyi, “Malam ini saya lebih dekat daripada sebelumnya kepada sungguh-sungguh memutuskan untuk mengundurkan diri dari Bethel dan mengambil tugas penggembalaan…Desakan itu hampir tidak terbendung. Ia mengambil bentuk ini: Saya tercengang oleh kesungguhan Allah dan kuasa firman-Nya untuk menciptakan manusia yang otentik.” Dalam beberapa minggu suatu panggilan datang dari [gereja] Bethlehem yang memulai kejadian yang membawa saya kepada gereja ini dan mimbar ini. Jadi sekali lagi surat Roma yang kelihatannya merupakan engser dari pintu kehidupan saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menjalankan Pelayanan'''&amp;lt;br&amp;gt;Walaupun saya belum pernah mengkhotbahkan surat Roma sampai habis, kebenaran agung dari Roma 8:28 dan 8:32 yang telah menjalankan pelayanan di sini selama 18 tahun. Saya dapat mengatakan bersama John Stott bahwa saya telah memberitakan ayat-ayat akhir yang penuh kemenangan dari Roma 8 pada sejumlah pemakaman dan “tidak pernah tidak tersentuh olehnya” (Romans: God’s Good News for the World [Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1994], hlm. 10). “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian saya mempunyai sejarah pribadi dengan surat ini. Demikian juga halnya dengan banyak orang lain. Saya akan menceritakan kepada Anda sebagian kisah mereka dalam minggu-minggu – dan tahun-tahun – mendatang (misalnya, Agustinus, Martin Luther, John Wesley, Karl Barth dan beberapa dari Anda di jemaat ini). Untuk sekarang cukup hanya dengan mengatakan bahwa Samuel Coleridge, berbicara bagi banyak orang ketika dia mengatakan, “Saya kira bahwa surat kepada jemaat di Roma merupakan karya paling dalam yang pernah ada” (Table Talk [Oxford: Oxford University Press, n.d.], hlm. 232). Dan John Knox (bukan yang dari Skotlandia) mengatakan bahwa surat Roma “tidak diragukan lagi adalah karya teologis paling penting yang pernah ditulis” (The Interpreter’s Bible, Vol. 9 [Nashville: Abingdon Press, 1954], hlm. 355). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ini terjadi? Bagaimana kisahnya bahwa karya teologis Kristen yang paling penting yang pernah ditulis datang dari seorang Yahudi Farisi yang membenci kekristenan (Kisah 9:1), dan ikut membunuh martir Kristen pertama (Kisah 7:58; 8:1), dan menganiaya gereja mula-mula dengan penuh semangat (1 Tim 1:13)? Bagaimana terjadinya sehingga orang ini menulis sepucuk surat 22 halaman, 7100 perkataan yang “abad demi abad…telah merupakan api dari mana satu demi satu pemimpin Kristen yang agung…menyalakan obornya sendiri demi kebangkitan gereja dan memperkaya kekristenan” (A. M. Hunter, Introducing the New Testament [Gateshead: SCM Press Ltd., 1972], hlm. 94)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya dimulai dari Roma 1:1, dalam 3 frasa pertama dari surat ini – “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Lihatlah satu demi satu dan renungkan apa artinya ini bagi orang ini dan bagi suratnya dan Allahnya. Dalam ketiga frasa ini, hal yang paling penting bukan siapa Paulus, tetapi milik siapakah Paulus. Dan ini pada akhirnya akan menjadi apa yang membuat hidup Anda bermakna atau tidak – bukan siapakah Anda, tetapi milik siapakah Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hamba Kristus Yesus'''&amp;lt;br&amp;gt;Pertama-tama, Paulus, penulis surat ini, mengatakan bahwa dia adalah “hamba Kristus Yesus.” Kita segera berhadapan dengan satu pilihan: apakah ini adalah orang gila yang tertipu? Yesus, yang disebut Kristus, telah dibunuh pada kira-kira tahun 30 Masehi oleh seorang wali negeri Romawi yang bernama Pilatus. Ada beberapa saksi sejarah sekuler yang membuktikan fakta ini. Dia sudah mati. Sekarang Paulus mengatakan bahwa orang ini, Yesus Kristus, tidak mati melainkan adalah tuannya, dan bahwa dia adalah hamba orang itu. Apakah ke-16 pasal ini merupakan cercaan orang yang tertipu? Anda harus memutuskan sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian Paulus sendiri bukanlah bahwa dia tertipu tetapi bahwa dia dibeli dan dimiliki dan dikuasai orang yang sezaman dengan dia, yang mati dan bangkit dari kematian – Yesus Kristus. Saya katakan, “dibeli dan dimiliki,” karena itulah makna seorang hamba. Dalam 1 Kor 7:23, Paulus mengatakan, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Dengan kata lain, orang Kristen adalah hamba Kristus karena dia membeli kita dengan mati bagi kita, dan oleh karena itu dia memiliki kita. “Kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor 6:19-20). Paulus adalah hamba Yesus Kristus karena Kristus membeli dia dan memiliki dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga berarti bahwa Kristus yang hidup ini menguasai dia. Dalam Galatia 1:10, Paulus berkata, “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Dengan kata lain, menjadi hamba Yesus Kristus berarti ketaatan mutlak terhadap yang berkenan bagi dia, bukan yang berkenan bagi orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian pemahaman diri Paulus adalah bahwa dia dibeli dan dimiliki dan dikuasai oleh Yesus Kristus – seseorang yang dibunuh sebagai penjahat mungkin 25 tahun sebelum surat ini ditulis, dan yang, selanjutnya dikatakan Paulus di ayat 4, dibangkitkan dari antara orang mati dan mutlak merupakan Anak Allah yang berkuasa. Dengan kata lain, dalam surat yang bersejarah ini kita tidak berhadapan dengan seseorang dan kejeniusannya. Kita berhadapan dengan seseorang dan Pemiliknya dan Penguasanya dan Allahnya. Ini mulai menjelaskan mengapa surat ini bukan surat biasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dipanggil Menjadi Rasul'''&amp;lt;br&amp;gt;Kedua, Paulus mengatakan bahwa dia adalah “[bukan hanya] seorang hamba Yesus Kristus, [tetapi juga] dipanggil menjadi rasul.” Dia bukan hanya dibeli dan dimiliki dan dikuasai; dia juga dipanggil. Signifikansi Paulus bukan terutama karena apa yang dia lakukan, tetapi apa yang dilakukan terhadap dia – dia telah dibeli dan dimiliki; dia telah dipanggil dan dikuduskan. Seseorang yang lain merupakan Aktor Utama di sini, bukan Paulus. Di dalam surat ini kita tidak berurusan hanya dengan pekerjaan seorang manusia, tetapi dengan pekerjaan Allah pada diri seseorang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam pikiran Paulus, menjadi seorang rasul adalah menjadi seseorang yang telah melihat Yesus Kristus bangkit dari kematian sehingga dia dapat memberikan kesaksian langsung, dan yang telah ditugaskan serta diberi kuasa oleh Kristus untuk mewakili dia dan berbicara bagi dia dan memberikan fondasi bagi gerejanya melalui pengajaran yang benar dan berkuasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus melihat Yesus dalam perjalanan menuju Damsyik. Dan di sana Yesus memanggil dia ke dalam pelayanan kerasulan. Dia mengatakan di 1 Kor 15:7-8, “ Ia [Yesus] menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” Di sana Yesus berkata kepada dia, “Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti” (Kis 26:16). Dengan penugasan ini dia menjadi salah satu pendiri kekristenan, sebagaimana dikatakan di Efesus 2:20, gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita bertanya di zaman ini di mana dasar dari para rasul bagi gereja dan kehidupan dan pelayanannya, jawabannya adalah: di dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan mereka. Dan di antara semua tulisan para rasul tidak ada yang menyerupai surat kepada jemaat di Roma ini. Surat ini benar-benar merupakan ringkasan Alkitabiah yang luar biasa tentang injil yang luar biasa, oleh sebab itu merupakan fondasi gereja yang terutama, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Paulus mengatakan bahwa dia “dipanggil sebagai rasul” sehingga gereja – sehingga kita – menerima surat Roma sebagai pesan bukan hanya dari manusia, tetapi dari Kristus. Kehebatan surat Roma bukan karena dia adalah perkataan orang jenius, melainkan karena ia adalah perkataan Allah (lihat 1 Tes 2:13; 1 Kor 2:13). Itulah signifikansi dari panggilan menjadi rasul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dikuduskan Untuk Memberitakan Injil Allah'''&amp;lt;br&amp;gt;Terakhir, Paulus mengatakan bahwa dia bukan hanya “seorang hamba Yesus Kristus, [dan bukan hanya] dipanggil menjadi rasul, [tetapi dia juga] dikuduskan untuk memberitakan injil Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapan terjadinya – dikuduskan untuk memberitakan injil Allah? Galatia 1:15 mengatakan, “Ia…telah memilih aku sejak kandungan ibuku.” Ini artinya sebelum Paulus dibeli sebagai hamba, dan sebelum dipanggil dalam perjalanan menuju Damsyik, dan sebelum dia lahir, Allah menguduskan dia untuk memberitakan injil Allah. Ini artinya Allah tidak mencari-cari orang untuk mengisi peran kerasulan; dia mempersiapkan Paulus sejak kandungan ibunya untuk melayani injil – yang merupakan sesuatu yang luar biasa kalau kita menyadari jalur dari kandungan ke perjalanan menuju Damsyik, yaitu ketidakpercayaan Paulus dan penganiayaannya terhadap gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya dalam ayat pertama dari surat yang luar biasa ini kita mencicipi sebagian dari keagungan hikmat Allah yang sulit dimengerti, yang dipuji Paulus dalam 11:33-36 (“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”). Allah tidak membiarkan apapun untuk terjadi secara kebetulan dalam membangun gerejanya melalui penulisan rasulnya: Dia menguduskan dia sejak sebelum lahir; dia membeli dia dengan kematian AnakNya; dia memanggil dia secara efektif dalam perjalanan menuju Damsyik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Surat Roma adalah tentang Allah'''&amp;lt;br&amp;gt;Dengan demikian ayat 1 mungkin kelihatannya seperti membicarakan tentang penulis surat ini; tetapi di balik setiap perkataan adalah Seseorang yang jauh lebih agung. Allah membeli dia dengan kematian AnakNya, Allah memanggil dia untuk menjadi rasul (Galatia 1:15; 1 Kor 1:1), Allah menguduskan dia sejak sebelum dia dilahirkan. Dan dia melakukan semuanya, “untuk memberitakan injil Allah” – yang akan kita lihat minggu depan. Dengan kata lain, dalam ayat pertama saja kita telah mendengar Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Leon Morris sungguh benar ketika dia mengatakan, “Allah adalah kata terpenting di dalam surat ini. Surat Roma adalah surat tentang Allah. Tidak ada topik yang dibahas dengan frekuensi sebagaimana membahas tentang Allah. Segala sesuatu yang dibahas Paulus dalam surat ini dia hubungkan dengan Allah. Dalam kepedulian kita untuk memahami apa yang dikatakan rasul ini tentang kebenaran, pembenaran, dan sejenisnya, kita tidak boleh melewatkan pemusatan perhatiannya yang luar biasa tentang Allah. Tidak ada yang menyerupai ini di tempat lain” (The Epistle to the Romans [Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1988], hlm. 40). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tidak ada. Itu sebabnya surat ini mempunyai efek yang dimilikinya. Ia berasal dari Allah dan oleh Allah dan bagi Allah. Allah memilih penulisnya sebelum dia dilahirkan. Allah membeli kemerdekaannya dengan kematian AnakNya. Allah memanggil dia menjadi rasul. Kemudian Allah memberikan dia sebuah injil – injil tentang Allah sendiri. Dengan demikian Allah berada di dasar dan Allah berada di puncak dan Allah berada di tengah-tengah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhubung kita sebagai gereja telah mengabdikan diri untuk menyebarkan semangat bagi supremasi Allah dalam segala sesuatu untuk sukacita semua bangsa, saya percaya ini adalah saatnya untuk bertemu Allah di dalam surat Roma. Saya percaya Allah telah memilih kita, memanggil kita, dan menguduskan kita untuk hal ini. Mari kita doakan agar firmanNya akan berlari sampai menang dalam keselamatan banyak orang dan dalam membangun gerejanya bagi kemuliaan namanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Peterdewiho</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://www.gospeltranslation.org/wiki/The_Author_of_the_Greatest_Letter_Ever_Written/id</id>
		<title>The Author of the Greatest Letter Ever Written/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.gospeltranslation.org/wiki/The_Author_of_the_Greatest_Letter_Ever_Written/id"/>
				<updated>2008-10-28T17:46:04Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Peterdewiho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Penulis Surat Teragung Yang Pernah Ditulis}} &amp;amp;lt;meta content=&amp;quot;text/html; charset=utf-8&amp;quot; http-equiv=&amp;quot;Content-Type&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/meta&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;meta content=&amp;quot;Word.Document&amp;quot; name=&amp;quot;ProgId&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/meta&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;meta content=&amp;quot;Microsoft Word 11&amp;quot; name=&amp;quot;Generator&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/meta&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;meta content=&amp;quot;Microsoft Word 11&amp;quot; name=&amp;quot;Originator&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/meta&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;link href=&amp;quot;file:///C:\DOCUME~1\PETERH~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_filelist.xml&amp;quot; rel=&amp;quot;File-List&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/link&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;o:smarttagtype name=&amp;quot;country-region&amp;quot; namespaceuri=&amp;quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:smarttagtype&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;o:smarttagtype name=&amp;quot;place&amp;quot; namespaceuri=&amp;quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:smarttagtype&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;o:smarttagtype name=&amp;quot;City&amp;quot; namespaceuri=&amp;quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:smarttagtype&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;o:smarttagtype name=&amp;quot;State&amp;quot; namespaceuri=&amp;quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:smarttagtype&amp;amp;gt;&amp;lt;!--[if gte mso 9]&amp;gt;&amp;lt;xml&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &amp;lt;w:WordDocument&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:View&amp;gt;Normal&amp;lt;/w:View&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:Zoom&amp;gt;0&amp;lt;/w:Zoom&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:PunctuationKerning/&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:ValidateAgainstSchemas/&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:SaveIfXMLInvalid&amp;gt;false&amp;lt;/w:SaveIfXMLInvalid&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:IgnoreMixedContent&amp;gt;false&amp;lt;/w:IgnoreMixedContent&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&amp;gt;false&amp;lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:Compatibility&amp;gt;&lt;br /&gt;
   &amp;lt;w:BreakWrappedTables/&amp;gt;&lt;br /&gt;
   &amp;lt;w:SnapToGridInCell/&amp;gt;&lt;br /&gt;
   &amp;lt;w:WrapTextWithPunct/&amp;gt;&lt;br /&gt;
   &amp;lt;w:UseAsianBreakRules/&amp;gt;&lt;br /&gt;
   &amp;lt;w:DontGrowAutofit/&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;/w:Compatibility&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &amp;lt;w:BrowserLevel&amp;gt;MicrosoftInternetExplorer4&amp;lt;/w:BrowserLevel&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &amp;lt;/w:WordDocument&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/xml&amp;gt;&amp;lt;![endif]--&amp;gt;&amp;lt;!--[if gte mso 9]&amp;gt;&amp;lt;xml&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &amp;lt;w:LatentStyles DefLockedState=&amp;quot;false&amp;quot; LatentStyleCount=&amp;quot;156&amp;quot;&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &amp;lt;/w:LatentStyles&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/xml&amp;gt;&amp;lt;![endif]--&amp;gt;&amp;lt;!--[if !mso]&amp;gt;&amp;lt;object&lt;br /&gt;
 classid=&amp;quot;clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D&amp;quot; id=ieooui&amp;gt;&amp;lt;/object&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;style&amp;gt;&lt;br /&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;br /&gt;
&amp;lt;/style&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;![endif]--&amp;gt;&amp;amp;lt;style&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Georgia; panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:&amp;quot;&amp;quot;; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --&amp;amp;gt; &amp;amp;lt;/style&amp;amp;gt;&amp;lt;!--[if gte mso 10]&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;style&amp;gt;&lt;br /&gt;
 /* Style Definitions */&lt;br /&gt;
 table.MsoNormalTable&lt;br /&gt;
	{mso-style-name:&amp;quot;Table Normal&amp;quot;;&lt;br /&gt;
	mso-tstyle-rowband-size:0;&lt;br /&gt;
	mso-tstyle-colband-size:0;&lt;br /&gt;
	mso-style-noshow:yes;&lt;br /&gt;
	mso-style-parent:&amp;quot;&amp;quot;;&lt;br /&gt;
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;&lt;br /&gt;
	mso-para-margin:0in;&lt;br /&gt;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;&lt;br /&gt;
	mso-pagination:widow-orphan;&lt;br /&gt;
	font-size:10.0pt;&lt;br /&gt;
	font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&lt;br /&gt;
	mso-ansi-language:#0400;&lt;br /&gt;
	mso-fareast-language:#0400;&lt;br /&gt;
	mso-bidi-language:#0400;}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/style&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;![endif]--&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roma 1:1 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Waktunya Telah Tiba&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama hampir 18 tahun berkhotbah di sini di [gereja] &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Bethlehem&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; saya telah menunggu dan menunggu waktu yang kelihatannya paling tepat untuk mengkhotbahkan keseluruhan &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Paulus kepada jemaat di Roma. Saya telah mempertimbangkannya berulang kali, dan mengurungkan niat itu – ibarat seorang pendaki gunung yang melihat ke arah awan yang mengelilingi puncak &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Himalaya&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; lalu mengalihkan pandangan ke puncak yang lebih rendah. Rasanya sangat melemahkan semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di dalam kesabaran dan anugerah dari Allah, beberapa bulan terakhir ini saya merasa sekaranglah waktunya. Kita telah tiba di penghujung milenium. Dan saya telah memasuki paruh kedua dari tiga puluh tahun penggembalaan saya di gereja ini, jika Tuhan menghendakinya. Derap waktu sekarang rasanya lebih cepat pada usia 52 dibandingkan dengan ketika saya memasuki usia 34. Dan injil tentang kemuliaan Kristus, yang merupakan gambar Allah (2 Kor 4:4), kelihatannya bagi saya lebih mulia sekarang daripada sebelumnya. Dan tidak ada eksposisi Injil Allah yang lebih agung daripada &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Sejarah Saya Bersama &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Surat&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; Roma&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mempunyai sejarah pribadi dengan &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; Roma yang mungkin akan membangkitkan beberapa dari antara Anda untuk bergabung dengan saya di dalam usaha untuk bertemu dengan Allah dan mengenal Dia dan menikmati Dia dan menaati Dia saat Dia bertemu kita di dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pertobatan&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak ingat bahwa saya bertobat pada usia 6 tahun di sisi ibu saya di &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Fort Lauderdale&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;, &amp;amp;lt;st1:state w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Florida&amp;amp;lt;/st1:state&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; (sebagaimana diingatkan oleh ayah saya). Saya hanya ingat bahwa saya percaya. Tetapi saya ingat bahwa saya mempelajari arti dari pertobatan saya – dan saya mempelajarinya dari surat Roma: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:23); dan “Upah dosa ialah maut” (6:23); dan “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (5:8); dan “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (10:9). Siapa di antara kita, yang telah merasakan kebaikan dan kemuliaan Allah di dalam Injil yang agung ini, yang tidak menganggap &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma ini berharga tiada taranya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Panggilan untuk Pelayanan Firman&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memasuki perguruan tinggi dengan pemikiran mungkin saya akan menjadi dokter atau dokter hewan. Lalu di musim panas tahun 1966, antara tahun kedua dan ketiga saya, seluruh arah kehidupan saya berubah, di dalam pemeliharaan Allah yang menyakitkan dan berharga. Dia memanggil saya untuk pelayanan firman. Musim gugur tahun itu saya telah berjanji akan tinggal bersama dengan tiga orang teman di sebuah kamar asrama untuk empat orang. Tetapi di pertengahan tahun saya tahu saya memerlukan lebih banyak waktu seorang diri untuk belajar dan berdoa sebagaimana saya merasa terdorong untuk belajar. Selama satu setengah tahun kemudian saya tinggal seorang diri di sebuah kamar asrama yang lain. Dan saya ingat di &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;sana&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; – saya dapat melihatnya dan hampir menciumnya – saya membaca buku kuning kecil tulisan John Stott tentang Roma 5-8 yang berjudul Manusia Ciptaan Baru. Efeknya terhadap saya adalah pemateraian panggilan untuk menjadi pelayan Firman Tuhan yang setia. Jadi Roma mengukuhkan pertobatan saya, dan Roma mengukuhkan panggilan saya untuk menjadi pelayan firman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pembentukan Teologia&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dimulailah seminari pada tahun 1968-1971, dengan semua penemuan yang menakjubkan tentang kedaulatan Allah. Dan di bawah Allah, sumber dari mana semua cahaya baru itu memancar adalah &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma – pertama-tama sebuah mata kuliah tentang Roma 1-8, kemudian sebuah mata kuliah klimaks tentang Keutuhan Alkitab yang dibangun di atas Roma 9-11. Ini adalah hari-hari pembentukan teologia yang menentukan di dalam hidup saya. Segala pemikiran saya sejak saat itu berakar dari &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;sana&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;. Jadi pertobatan saya, panggilan saya untuk pelayanan firman, dan pembentukan yang menentukan dari visi saya tentang Allah dimateraikan oleh &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Panggilan Penggembalaan&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, setelah tiga tahun belajar di Jerman dan enam tahun mengajar di &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Bethel&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;, &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma kembali menjadi alat Tuhan yang menentukan ketika saya meninggalkan pengajaran untuk menjadi gembala di gereja ini pada tahun 1980. Saya telah mempelajari Roma 9 selama bertahun-tahun untuk memahami lukisan Allah yang luar biasa di pasal itu. Pada musim gugur tahun 1979, saya diberikan tahun sabat dan bertekad untuk menyelesaikan masalah ini sedapat mungkin, dan menulis sebuah buku tentang Roma 9. Ketika saya menenggelamkan diri di Roma 9 hari demi hari, sesuatu yang sama sekali tidak terduga terjadi. Perkataan yang terus menerus saya dengar secara pribadi adalah, “Saya, Allah dari Roma 9, harus diberitakan, dan bukan hanya dianalisis atau dijelaskan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tanggal 14 Oktober 1979 larut malam setelah Noel tidur, Allah melakukan karya yang menentukan dalam memanggil saya dari mengajar di perguruan tinggi kepada pemberitaan firman di gereja. Ini adalah di tengah-tengah penulisan “Pembenaran Allah: Sebuah Eksposisi Roma 9.” Catatan harian itu berbunyi, “Malam ini saya lebih dekat daripada sebelumnya kepada sungguh-sungguh memutuskan untuk mengundurkan diri dari &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Bethel&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; dan mengambil tugas penggembalaan…Desakan itu hampir tidak terbendung. Ia mengambil bentuk ini: Saya tercengang oleh kesungguhan Allah dan kuasa firman-Nya untuk menciptakan manusia yang otentik.” Dalam beberapa minggu suatu panggilan datang dari [gereja] &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Bethlehem&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; yang memulai kejadian yang membawa saya kepada gereja ini dan mimbar ini. Jadi sekali lagi &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma yang kelihatannya merupakan engser dari pintu kehidupan saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menjalankan Pelayanan&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun saya belum pernah mengkhotbahkan &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma sampai habis, kebenaran agung dari Roma 8:28 dan 8:32 yang telah menjalankan pelayanan di sini selama 18 tahun. Saya dapat mengatakan bersama John Stott bahwa saya telah memberitakan ayat-ayat akhir yang penuh kemenangan dari Roma 8 pada sejumlah pemakaman dan “tidak pernah tidak tersentuh olehnya” (Romans: God’s Good News for the World [Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1994], hlm. 10). “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian saya mempunyai sejarah pribadi dengan &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini. Demikian juga halnya dengan banyak orang lain. Saya akan menceritakan kepada Anda sebagian kisah mereka dalam minggu-minggu – dan tahun-tahun – mendatang (misalnya, Agustinus, Martin Luther, John Wesley, Karl Barth dan beberapa dari Anda di jemaat ini). Untuk sekarang cukup hanya dengan mengatakan bahwa Samuel Coleridge, berbicara bagi banyak orang ketika dia mengatakan, “Saya kira bahwa &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; kepada jemaat di Roma merupakan karya paling dalam yang pernah ada” (Table Talk [&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Oxford&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;: Oxford University Press, n.d.], hlm. 232). Dan John Knox (bukan yang dari Skotlandia) mengatakan bahwa &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma “tidak diragukan lagi adalah karya teologis paling penting yang pernah ditulis” (The Interpreter’s Bible, Vol. 9 [&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Nashville&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;: Abingdon Press, 1954], hlm. 355). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ini terjadi? Bagaimana kisahnya bahwa karya teologis Kristen yang paling penting yang pernah ditulis datang dari seorang Yahudi Farisi yang membenci kekristenan (Kisah 9:1), dan ikut membunuh martir Kristen pertama (Kisah 7:58; 8:1), dan menganiaya gereja mula-mula dengan penuh semangat (1 Tim 1:13)? Bagaimana terjadinya sehingga orang ini menulis sepucuk &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; 22 halaman, 7100 perkataan yang “abad demi abad…telah merupakan api dari mana satu demi satu pemimpin Kristen yang agung…menyalakan obornya sendiri demi kebangkitan gereja dan memperkaya kekristenan” (A. M. Hunter, Introducing the New Testament [Gateshead: SCM Press Ltd., 1972], hlm. 94)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya dimulai dari Roma 1:1, dalam 3 frasa pertama dari surat ini – “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Lihatlah satu demi satu dan renungkan apa artinya ini bagi orang ini dan bagi suratnya dan Allahnya. Dalam ketiga frasa ini, hal yang paling penting bukan siapa Paulus, tetapi milik siapakah Paulus. Dan ini pada akhirnya akan menjadi apa yang membuat hidup Anda bermakna atau tidak – bukan siapakah Anda, tetapi milik siapakah Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hamba Kristus Yesus&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama-tama, Paulus, penulis &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini, mengatakan bahwa dia adalah “hamba Kristus Yesus.” Kita segera berhadapan dengan satu pilihan: apakah ini adalah orang gila yang tertipu? Yesus, yang disebut Kristus, telah dibunuh pada kira-kira tahun 30 Masehi oleh seorang wali negeri Romawi yang bernama &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Pilatus&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Ada&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; beberapa saksi sejarah sekuler yang membuktikan fakta ini. Dia sudah mati. Sekarang Paulus mengatakan bahwa orang ini, Yesus Kristus, tidak mati melainkan adalah tuannya, dan bahwa dia adalah hamba orang itu. Apakah ke-16 pasal ini merupakan cercaan orang yang tertipu? Anda harus memutuskan sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian Paulus sendiri bukanlah bahwa dia tertipu tetapi bahwa dia dibeli dan dimiliki dan dikuasai orang yang sezaman dengan dia, yang mati dan bangkit dari kematian – Yesus Kristus. Saya katakan, “dibeli dan dimiliki,” karena itulah makna seorang hamba. Dalam 1 Kor 7:23, Paulus mengatakan, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Dengan kata lain, orang Kristen adalah hamba Kristus karena dia membeli kita dengan mati bagi kita, dan oleh karena itu dia memiliki kita. “Kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor 6:19-20). Paulus adalah hamba Yesus Kristus karena Kristus membeli dia dan memiliki dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga berarti bahwa Kristus yang hidup ini menguasai dia. Dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:country-region w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Galatia&amp;amp;lt;/st1:country-region&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; 1:10, Paulus berkata, “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Dengan kata lain, menjadi hamba Yesus Kristus berarti ketaatan mutlak terhadap yang berkenan bagi dia, bukan yang berkenan bagi orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian pemahaman diri Paulus adalah bahwa dia dibeli dan dimiliki dan dikuasai oleh Yesus Kristus – seseorang yang dibunuh sebagai penjahat mungkin 25 tahun sebelum surat ini ditulis, dan yang, selanjutnya dikatakan Paulus di ayat 4, dibangkitkan dari antara orang mati dan mutlak merupakan Anak Allah yang berkuasa. Dengan kata lain, dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; yang bersejarah ini kita tidak berhadapan dengan seseorang dan kejeniusannya. Kita berhadapan dengan seseorang dan Pemiliknya dan Penguasanya dan Allahnya. Ini mulai menjelaskan mengapa &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; ini bukan &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; biasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dipanggil Menjadi Rasul&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Paulus mengatakan bahwa dia adalah “[bukan hanya] seorang hamba Yesus Kristus, [tetapi juga] dipanggil menjadi rasul.” Dia bukan hanya dibeli dan dimiliki dan dikuasai; dia juga dipanggil. Signifikansi Paulus bukan terutama karena apa yang dia lakukan, tetapi apa yang dilakukan terhadap dia – dia telah dibeli dan dimiliki; dia telah dipanggil dan dikuduskan. Seseorang yang lain merupakan Aktor Utama di sini, bukan Paulus. Di dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini kita tidak berurusan hanya dengan pekerjaan seorang manusia, tetapi dengan pekerjaan Allah pada diri seseorang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam pikiran Paulus, menjadi seorang rasul adalah menjadi seseorang yang telah melihat Yesus Kristus bangkit dari kematian sehingga dia dapat memberikan kesaksian langsung, dan yang telah ditugaskan serta diberi kuasa oleh Kristus untuk mewakili dia dan berbicara bagi dia dan memberikan fondasi bagi gerejanya melalui pengajaran yang benar dan berkuasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus melihat Yesus dalam perjalanan menuju Damsyik. Dan di &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;sana&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Yesus memanggil dia ke dalam pelayanan kerasulan. Dia mengatakan di 1 Kor 15:7-8, “ Ia [Yesus] menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” Di &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;sana&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Yesus berkata kepada dia, “Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti” (Kis 26:16). Dengan penugasan ini dia menjadi salah satu pendiri kekristenan, sebagaimana dikatakan di Efesus 2:20, gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita bertanya di zaman ini di mana dasar dari para rasul bagi gereja dan kehidupan dan pelayanannya, jawabannya adalah: di dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan mereka. Dan di antara semua tulisan para rasul tidak ada yang menyerupai &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; kepada jemaat di Roma ini. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini benar-benar merupakan ringkasan Alkitabiah yang luar biasa tentang injil yang luar biasa, oleh sebab itu merupakan fondasi gereja yang terutama, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Paulus mengatakan bahwa dia “dipanggil sebagai rasul” sehingga gereja – sehingga kita – menerima &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma sebagai pesan bukan hanya dari manusia, tetapi dari Kristus. Kehebatan &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma bukan karena dia adalah perkataan orang jenius, melainkan karena ia adalah perkataan Allah (lihat 1 Tes 2:13; 1 Kor 2:13). Itulah signifikansi dari panggilan menjadi rasul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 11pt; font-family: Georgia;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dikuduskan Untuk Memberitakan Injil Allah&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, Paulus mengatakan bahwa dia bukan hanya “seorang hamba Yesus Kristus, [dan bukan hanya] dipanggil menjadi rasul, [tetapi dia juga] dikuduskan untuk memberitakan injil Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapan terjadinya – dikuduskan untuk memberitakan injil Allah? &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:country-region w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Galatia&amp;amp;lt;/st1:country-region&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; 1:15 mengatakan, “Ia…telah memilih aku sejak kandungan ibuku.” Ini artinya sebelum Paulus dibeli sebagai hamba, dan sebelum dipanggil dalam perjalanan menuju Damsyik, dan sebelum dia lahir, Allah menguduskan dia untuk memberitakan injil Allah. Ini artinya Allah tidak mencari-cari orang untuk mengisi peran kerasulan; dia mempersiapkan Paulus sejak kandungan ibunya untuk melayani injil – yang merupakan sesuatu yang luar biasa kalau kita menyadari jalur dari kandungan ke perjalanan menuju Damsyik, yaitu ketidakpercayaan Paulus dan penganiayaannya terhadap gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya dalam ayat pertama dari &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; yang luar biasa ini kita mencicipi sebagian dari keagungan hikmat Allah yang sulit dimengerti, yang dipuji Paulus dalam 11:33-36 (“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”). Allah tidak membiarkan apapun untuk terjadi secara kebetulan dalam membangun gerejanya melalui penulisan rasulnya: Dia menguduskan dia sejak sebelum lahir; dia membeli dia dengan kematian AnakNya; dia memanggil dia secara efektif dalam perjalanan menuju Damsyik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;'''Surat'''&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;'''Roma adalah tentang Allah&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian ayat 1 mungkin kelihatannya seperti membicarakan tentang penulis &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini; tetapi di balik setiap perkataan adalah Seseorang yang jauh lebih agung. Allah membeli dia dengan kematian AnakNya, Allah memanggil dia untuk menjadi rasul (&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:country-region w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Galatia&amp;amp;lt;/st1:country-region&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; 1:15; 1 Kor 1:1), Allah menguduskan dia sejak sebelum dia dilahirkan. Dan dia melakukan semuanya, “untuk memberitakan injil Allah” – yang akan kita lihat minggu depan. Dengan kata lain, dalam ayat pertama saja kita telah mendengar Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Leon Morris sungguh benar ketika dia mengatakan, “Allah adalah kata terpenting di dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini. Surat Roma adalah &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; tentang Allah. Tidak ada topik yang dibahas dengan frekuensi sebagaimana membahas tentang Allah. Segala sesuatu yang dibahas Paulus dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini dia hubungkan dengan Allah. Dalam kepedulian kita untuk memahami apa yang dikatakan rasul ini tentang kebenaran, pembenaran, dan sejenisnya, kita tidak boleh melewatkan pemusatan perhatiannya yang luar biasa tentang Allah. Tidak ada yang menyerupai ini di tempat lain” (The Epistle to the Romans [&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Grand Rapids&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1988], hlm. 40). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tidak ada. Itu sebabnya &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; ini mempunyai efek yang dimilikinya. Ia berasal dari Allah dan oleh Allah dan bagi Allah. Allah memilih penulisnya sebelum dia dilahirkan. Allah membeli kemerdekaannya dengan kematian AnakNya. Allah memanggil dia menjadi rasul. Kemudian Allah memberikan dia sebuah injil – injil tentang Allah sendiri. Dengan demikian Allah berada di dasar dan Allah berada di puncak dan Allah berada di tengah-tengah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhubung kita sebagai gereja telah mengabdikan diri untuk menyebarkan semangat bagi supremasi Allah dalam segala sesuatu untuk sukacita semua bangsa, saya percaya ini adalah saatnya untuk bertemu Allah di dalam &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Roma. Saya percaya Allah telah memilih kita, memanggil kita, dan menguduskan kita untuk hal ini. Mari kita doakan agar firmanNya akan berlari sampai menang dalam keselamatan banyak orang dan dalam membangun gerejanya bagi kemuliaan namanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 11pt; font-family: Georgia;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 11pt; font-family: Georgia;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 11pt; font-family: Georgia;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Peterdewiho</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://www.gospeltranslation.org/wiki/God%27s_Good_News_Concerning_His_Son/id</id>
		<title>God's Good News Concerning His Son/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.gospeltranslation.org/wiki/God%27s_Good_News_Concerning_His_Son/id"/>
				<updated>2008-10-28T02:25:45Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Peterdewiho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{Info|Kabar Baik Allah Sehubungan Dengan Anak-Nya}} &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Roma 1:1-4''' Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, 3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, 4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Minggu lalu kita melihat dari ayat 1 bahwa Paulus adalah hamba Kristus Yesus, artinya, dia dibeli dan dimiliki serta tunduk kepada Kristus. Dia hidup untuk menyenangkan Kristus. Dan agar kita tidak salah tafsir bahwa Kristus bergantung kepada inisiatif and perbudakan Paulus, kita harus memperhatikan Roma 15:18 bahwa Paulus bergantung kepada Kristus di dalam semua yang Paulus kerjakan dalam melayani Kristus: “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan.” Dengan kata lain, Paulus melayani Kristus di dalam kuasa yang dilayani oleh Kristus untuk Paulus. “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45; lihat juga 1 Korintus 15:10; 1 Petrus 4:11). Kita akan membelokkan seluruh makna kitab Roma sejak awal jika kita tidak melihat bahwa Paulus melayani Kristus di dalam kuasa yang diberikan Kristus, sehingga Kristus beroleh kemuliaan di dalam pelayanan Paulus (lihat 1 Petrus 4:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristus yang berdaulat, yang memberikan semuanya adalah yang kita temui di dalam frasa berikut, “dipanggil menjadi rasul.” Kristus memanggil Paulus dalam perjalanan menuju Damsyik dan memberikan kuasa kepada dia untuk menjadi wakilnya dalam mendirikan gereja dengan pengajaran yang benar. Selanjutnya kita melihat tangan Allah yang berdaulat, yang merencanakan semuanya di frasa berikut, “dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Allah menguduskan Paulus sebelum dia dilahirkan, kata Galatia 1:15. Allah begitu serius tentang kedatangan dan pewahyuan Injil-Nya sehingga dia tidak membiarkan apapun untuk terjadi secara kebetulan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kita akan melihat perkataan ini, “Injil Allah” (1:1) dan bagaimana Paulus menjelaskannya di ayat 2-4. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,”&amp;lt;br&amp;gt;Hal pertama yang dikatakan Paulus adalah sepenuhnya apa yang kita baru saja lihat: bahwa Allah serius ingin menunjukkan bahwa Injil direncanakan jauh sebelum diwujudkan. Ayat 2: “…[Paulus] dikuduskan bagi Injil Allah, yang dijanjikan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan tiga hal ini dari ayat 2. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Injil Allah adalah penggenapan dari janji-janji Perjanjian Lama &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan agama yang baru. Ini adalah penggenapan dari sebuah agama lama. Allah Perjanjian Lama adalah Allah Perjanjian Baru. Apa yang Dia persiapkan dan janjikan di masa lalu, Dia genapi di dalam kedatangan Yesus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Allah menepati janji-janji-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ratusan tahun berlalu sudah. Orang-orang Yahudi bertanya-tanya apakah Mesias akan datang. Mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Lalu Allah bertindak dan janji itu digenapi. Ini berarti Allah dapat dipercaya. Mungkin kelihatannya dia telah melupakan janji-janji-Nya. Tetapi dia tidak lupa. Jadi ayat 2 bukan hanya sebuah pernyataan tentang isi Injil, tetapi juga adalah alasan untuk percaya kepadanya. Jika kita dapat melihat bahwa God menjanjikan Kristus beratus-ratus tahun sebelum Dia datang dan bahwa dalam banyak hal-hal terinci dia menggenapi janji-janji ini, iman kita dikuatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ini adalah tulisan-tulisan yang kudus dan diwahyukan yang harus kita hormati dan percayai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan implikasi yang luar biasa pentingnya dari ayat 2 bagi doktrin Alkitab kita. Pertama-tama ada Allah; kemudian ada janji yang Allah dikehendaki untuk diperbuat; lalu ada nabi-nabi yang “dengan perantaraan” mereka (Perhatikan: bukan “oleh” mereka, tetapi “dengan perantaraan” mereka, Allah tetap sebagai pembicara) Allah mengucapkan janji-Nya; lalu ada tulisan-tulisan; dan tulisan-tulisan ini disebut kudus. Mengapa disebut kudus – dipisahkan dari semua tulisan lain dan unik serta berharga? Karena Allah yang berbicara di dalamnya. Bacalah ayat ini dengan hati-hati: Dia [Allah] menjanjikan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci. Allah berjanji di dalam Alkitab. Allah berbicara di dalam Alkitab. Ini yang membuat tulisan-tulisan itu kudus. Ini adalah pemahaman Paulus tentang Alkitab dan juga seharusnya adalah pemahaman kita. Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa di halaman depan Alkitab kita tertulis “Kitab Suci,” Roma 1:2 adalah jawabannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan agar keterkaitan langsung ini tidak luput dari perhatian kita dalam eksposisi kitab Roma, kita perlu ingat tiga hal:&amp;lt;br&amp;gt;1. Paulus melihat dirinya di 1:1 sebagai seorang rasul Kristus Yesus, dia berbicara dan menulis dengan penuh kuasa Kristus sebagai seorang pendiri gereja. Dengan kata lain, seperti salah seorang nabi di masa lalu (Efesus 2:20).&amp;lt;br&amp;gt;2. Paulus mengatakan di 1 Korintus 2:13, “Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” Dengan kata lain, Paul mengklaim akan adanya suatu wahyu khusus di dalam pengajarannya.&amp;lt;br&amp;gt;3. Dalam 2 Petrus 3:16, Petrus mengatakan bahwa sebagian “orang memutarbalikkan [surat Paulus], sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” Dengan demikian Petrus menempatkan surat-surat Paulus ke dalam kategori yang sama dengan Kitab Suci yang kita baca sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebabnya khotbah begitu penting di dalam kehidupan kita bersama. Kita percaya bahwa surat Paulus kepada jemaat di Roma adalah firman Tuhan, bukan hanya perkataan manusia. Injil dijanjikan di dalam kitab suci yang diwahyukan Allah; dan Injil disingkapkan dan dilestarikan bagi kita di dalam kitab suci yang diwahyukan Allah. Ini yang kita percayai, dan ini menimbulkan perbedaan yang luar biasa dalam cara kita memandang kebenaran dan doktrin dan khotbah dan ibadah dan segala sesuatu di dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian hal pertama yang dikatakan Paulus tentang Injil Allah adalah bahwa Injil direncanakan dan dinubuatkan jauh sebelumnya (1:2). Ini adalah Injil “yang telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tentang Anaknya, …”&amp;lt;br&amp;gt;Hal kedua yang dia katakan tentang Injil Allah (1:3) adalah bahwa Injil ini adalah tentang anak-Nya. “…Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, …” Injil Allah berhubungan dengan Anak Allah. Kita perlu segera menjelaskan dua hal tentang Anak Allah, agar kita tidak jauh tersesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anak Allah telah ada sebelum Ia menjadi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat Roma 8:3, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging.” Allah mengutus dia untuk mengambil rupa manusia. Dengan demikian Sang Anak ada sebagai Anak Allah sebelum dia menjadi manusia. Ini artinya Kristus sekarang dan dahulu adalah Anak Allah secara unik – tidak seperti kita yang juga merupakan anak-anak Allah (Roma 8:14, 19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kristus sendiri adalah Allah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Roma 9:5, tentang keistimewaan Israel, Paulus mengatakan, “Mereka [Israel] adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Dan di Kolose 2:9 Paulus mengatakan, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Dengan demikian ketika Paulus mengatakan bahwa Injil Allah tentang Anak-Nya, maksudnya Injil ini berhubungan dengan Anak yang ilahi dan ada sejak semula. Injil Allah bukan tentang Allah mengatur urusan manusia menjadi lebih baik. Injil Allah adalah tentang Allah menerobos urusan manusia dari luar di dalam diri Anak-Nya yang merupakan gambar Bapa yang sempurna dan merupakan Allah sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian Paulus memberikan penekanan yang kuat atas “Injil Allah” dengan mengatakan, pertama, bahwa ia dijanjikan – direncanakan – oleh Allah jauh sebelum ia muncul, dan, kedua, bahwa ia berhubungan dengan Anak-Nya yang ilahi. Pencipta alam semesta yang berdaulat telah merencanakan kebaikan bagi dunia, dan di pusat rencana ini adalah Anak-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud…”&amp;lt;br&amp;gt;Hal ketiga yang dikatakan Paulus tentang Injil Allah adalah bahwa Sang Anak yang ilahi ini “menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud.” Kalimat ini secara bersamaan mengatakan dua hal: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anak Allah menjadi seorang manusia.&amp;lt;br&amp;gt;Dia dilahirkan. Pekerjaan yang harus Dia lakukan – misi Dia – menuntut Dia untuk mengambil natur manusia, bersamaan dengan natur ilahinya. Allah tidak memilih seorang manusia dan menjadikan dia anak-Nya; Dia memilih untuk menjadikan Anak-Nya yang tunggal dan kekal sebagai manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dia dilahirkan di dalam garis keturunan Raja Daud dari Perjanjian Lama&amp;lt;br&amp;gt;Mengapa ini adalah bagian dari Injil Allah? Mengapa ini adalah kabar baik? Jawabannya adalah semua janji-janji Perjanjian Lama bergantung kepada kedatangan Mesias – Yang diurapi – yang akan memerintah sebagai raja di dalam garis keturunan Daud dan menaklukkan musuh-musuh umat Allah serta membawa keadilan dan damai sejahtera selamanya. Dia akan menjadi “Ya” bagi semua janji-janji Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan beberapa janji-janji Perjanjian Lama. Yeremia 23:5, “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.” Atau Yesaya 11:10, “Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai [yaitu Anak Daud, keturunan Isai] akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian Injil Allah adalah kabar baik yang sekarang, setelah ratusan tahun, diwujudkan Allah untuk menggenapi rencana dan janji-Nya bahwa seorang raja akan datang dari garis keturunan Daud, dan, sebagaimana dikatakan Yesaya 9:6-7, “Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian “Injil Allah” adalah kabar baik bahwa waktunya telah genap dan kerajaan Allah sudah dekat (Markus 1:14-15, “Yesus datang ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ‘Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!’”). Kedatangan Anak Allah ke dalam dunia adalah kedatangan “Anak Daud,” Raja yang dijanjikan. Dia akan memerintah bangsa-bangsa dan mengalahkan musuh-musuh Allah serta memerintah dengan keadilan dan damai sejahtera dan, menurut Yesaya 35:10, “Orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” Itulah yang membuat ayat 3 “Injil Allah.” Kedatangan Anak Allah sebagai Anak Daud akan berarti sukacita abadi di hadapan Allah – bagi orang-orang yang dibebaskan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa”&amp;lt;br&amp;gt;Ada satu hal lagi yang Paulus katakan tentang “Injil Allah.” Injil Allah bukan hanya direncanakan dan dijanjikan sebelum realisasi; dan Injil Allah bukan hanya tentang Anak Allah yang ilahi dan ada sejak semula; dan Injil Allah bukan hanya kabar bahwa Sang Anak ini telah dilahirkan sebagai Anak Daud untuk menggenapi harapan dan impian Perjanjian Lama tentang keadilan dan damai sejahtera dan sukacita di dalam kerajaan Allah; tetapi di ayat 4, Paulus mengatakan sesuatu yang secara bersamaan mengejutkan dan menggembirakan. Dia mengatakan bahwa Anak Allah “dinyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, menurut Roh kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa saya mengatakan ini mengejutkan? Kebanyakan orang Yahudi di zaman Paulus mengharapkan Mesias akan datang dengan kuasa secara politis, dan akan mengalahkan pemerintah dunia yang menindas, orang Romawi, dan mendirikan kerajaan dunia di Yerusalem dan hidup berkemenangan selamanya bersama umat-Nya. Tetapi dari apa yang dikatakan Paulus di ayat 4 tersirat bahwa di antara ayat 3 dan 4 Anak Daud mati. Dia mati! Mereka yang mengira Dia adalah Mesias terkejut. Mesias mestinya tidak mati. Dia hidup dan menaklukkan dan memerintah. Dia tidak ditangkap dan dipukul dan dihina dan disalibkan serta membiarkan umat-Nya terlantar. Ini sungguh mengejutkan. (Lukas 24:21, “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus akan kembali membicarakan kematian Kristus di pasal 3 dan 5 dan 8. Tetapi untuk sekarang ini dia segera membahas catatan menggembirakan tentang kemenangan pada Injil Allah. Mesias yang mati ini, Paulus katakan di ayat 4, dibangkitkan dari antara orang mati. Ini adalah jantung dari Injil Allah. Dan Paulus mengatakan dua hal tentang kebangkitan ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kebangkitan dari antara orang mati ini adalah “menurut Roh kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya ini? Menurut saya ini paling sedikit mempunyai dua arti: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Roh Allah yang kudus membangkitkan Yesus dari antara orang mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mendapat petunjuk dari Roma 8:11 di mana Paulus berkata, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Ini mengajarkan bahwa kita akan dibangkitkan oleh Roh Allah yang diam di dalam kita, sebagaimana Kristus dibangkitkan. Dengan demikian Roh dilibatkan dalam membangkitkan Yesus dari kematian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Tetapi mengapa Paulus memakai istilah yang tidak lazim, “Roh kekudusan” (tidak ditemukan di tempat lain di Perjanjian Baru)?&amp;lt;br&amp;gt;Ini usul saya. Berhubungan dengan orang mati adalah urusan yang menjijikkan. Ketika Raja Saul ingin berkomunikasi dengan orang mati dia pergi ke perempuan pemanggil arwah (1 Samuel 28:7 dst.), dan ini adalah sebuah usaha yang serba rahasia dan melanggar hukum. Pemanggil arwah, peramal, dan perdukunan merupakan hal-hal yang terkutuk di Israel. Ketika orang mati meninggal, kita membiarkan mereka dan tidak berurusan lagi dengan mereka. Berkomunikasi dengan arwah adalah sesuatu yang tidak dibenarkan bagi orang percaya. Berhubungan dengan orang mati merupakan sejenis ilmu hitam, bukan sesuatu yang indah, bersih, dan kudus. Berbicara tentang orang mati yang dieksekusi dibangkitkan dari orang mati pasti kedengarannya sungguh mengerikan dan menjijikkan, seperti ilmu hitam dan perdukunan. Bertolak belakang dengan ini Paulus menekankan yang sebaliknya: Kristus dibangkitkan dari antara orang mati menurut Roh kekudusan, bukan roh kegelapan atau roh jahat, tetapi Roh Allah sendiri yang terlebih-lebih ditandai dengan kekudusan. Dia tidak menjadi tercemar karena membangkitkan Yesus. Ini merupakan sesuatu yang kudus untuk dilakukan. Ini adalah benar dan baik dan bersih dan indah dan memuliakan Allah, bukan meremehkan Allah. Ini adalah kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dengan kebangkitan ini Kristus “dinyatakan Anak Allah yang berkuasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan kunci di sini adalah “yang berkuasa.” Saya kira Alkitab bahasa Inggeris versi NASB dan KJV dan RSV benar dengan menunjukkan bahwa frase ini menerangkan “Anak Allah.” Maksudnya bukanlah bahwa Kristus bukan Anak Allah sebelum kebangkitan. Maksudnya adalah pada kebangkitan Kristus bergerak dari Anak Allah di dalam kerendahan dan keterbatasan dan kelemahan manusia menjadi Anak Allah yang berkuasa. Perkataan kuncinya adalah “yang berkuasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah maksud Yesus ketika dia mengatakan setelah kebangkitan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Ini adalah maksud Paulus di 1 Korintus 15:25-26 ketika dia berbicara tentang Kristus yang bangkit, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.” Dengan kata lain, Yesus adalah Raja Mesianik. Dia sedang memerintah sekarang atas seluruh bumi. Dia sedang meletakkan semua musuhnya di bawah kakinya. Akan tiba waktunya ketika Dia menerobos dari pemerintahan-Nya yang tidak kelihatan dengan kemuliaan yang kelihatan dan mendirikan kerajaan-Nya secara terbuka dan mulia di atas bumi. Itu yang Paulus maksudkan dengan “Anak Allah yang berkuasa.” Dia sedang memerintah sekarang. Dia sedang mewujudkan tujuanNya melalui Roh-Nya dan gereja-Nya. Dan akan tiba saatnya ketika Kristus akan mengalahkan semua musuh, dan setiap lutut akan bertekuk dan mengaku bahwa Dia adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Filipi 2:10-11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan merupakan konsumasi dari Injil Allah. Kepadanya kita berkata, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Peterdewiho</name></author>	</entry>

	<entry>
		<id>http://www.gospeltranslation.org/wiki/God%27s_Good_News_Concerning_His_Son/id</id>
		<title>God's Good News Concerning His Son/id</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.gospeltranslation.org/wiki/God%27s_Good_News_Concerning_His_Son/id"/>
				<updated>2008-09-11T02:39:09Z</updated>
		
		<summary type="html">&lt;p&gt;Peterdewiho: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{Info|Kabar Baik Allah Sehubungan Dengan Anak-Nya}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kabar Baik Allah Sehubungan Dengan Anak-Nya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roma 1:1-4&amp;lt;br&amp;gt;1. Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.&amp;lt;br&amp;gt;2. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,&amp;lt;br&amp;gt;3. tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud,&amp;lt;br&amp;gt;4. dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Minggu lalu kita melihat dari ayat 1 bahwa Paulus adalah hamba Kristus Yesus, artinya, dia dibeli dan dimiliki serta tunduk kepada Kristus. Dia hidup untuk menyenangkan Kristus. Dan agar kita tidak salah tafsir bahwa Kristus bergantung kepada inisiatif and perbudakan Paulus, kita harus memperhatikan Roma 15:18 bahwa Paulus bergantung kepada Kristus di dalam semua yang Paulus kerjakan dalam melayani Kristus: “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan.” Dengan kata lain, Paulus melayani Kristus di dalam kuasa yang dilayani oleh Kristus untuk Paulus. “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45; lihat juga 1 Korintus 15:10; 1 Petrus 4:11). Kita akan membelokkan seluruh makna kitab Roma sejak awal jika kita tidak meliat bahwa Paulus melayani Kristus di dalam kuasa yang diberikan Kristus, sehingga Kristus beroleh kemuliaan di dalam pelayanan Paulus (lihat 1 Petrus 4:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristus yang berdaulat, yang memberikan semuanya adalah yang kita temui di dalam frasa berikut, “dipanggil menjadi rasul.” Kristus memanggil Paulus dalam perjalanan menuju Damsyik dan memberikan kuasa kepada dia untuk menjadi wakilnya dalam mendirikan gereja dengan pengajaran yang benar. Selanjutnya kita melihat tangan Allah yang berdaulat, yang merencanakan semuanya di frasa berikut, “dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Allah menguduskan Paulus sebelum dia dilahirkan, kata Galatia 1:15. Allah begitu serius tentang kedatangan dan pewahyuan Injil-Nya sehingga dia tidak membiarkan apapun untuk terjadi secara kebetulan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kita akan melihat perkataan ini, “Injil Allah” (1:1) dan bagaimana Paulus menjelaskannya di ayat 2-4. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,”&amp;lt;br&amp;gt;Hal pertama yang dikatakan Paulus adalah sepenuhnya apa yang kita baru saja lihat: bahwa Allah serius ingin menunjukkan bahwa Injil direncanakan jauh sebelum diwujudkan. Ayat 2: “…[Paulus] dikuduskan bagi Injil Allah, yang dijanjikan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan tiga hal ini dari ayat 2. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Injil Allah adalah penggenapan dari janji-jani Perjanjian Lama &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan agama yang baru. Ini adalah penggenapan dari sebuah agama lama. Allah Perjanjian Lama adalah Allah Perjanjian Baru. Apa yang Dia persiapkan dan janjikan di masa lalu, Dia genapi di dalam kedatangan Yesus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Allah menepati janji-janji-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ratusan tahun berlalu sudah. Orang-orang Yahudi bertanya-tanya apakah Mesias akan datang. Mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Lalu Allah bertindak dan janji itu digenapi. Ini berarti Allah dapat dipercaya. Mungkin kelihatannya dia telah melupakan janji-janji-Nya. Tetapi dia tidak lupa. Jadi ayat 2 bukan hanya sebuah pernyataan tentang isi Injil, tetapi juga adalah alasan untuk percaya kepadanya. Jika kita dapat melihat bahwa God menjanjikan Kristus beratus-ratus tahun sebelum Dia datang dan bahwa dalam banyak hal-hal terinci dia menggenapi janji-janji ini, iman kita dikuatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ini adalah tulisan-tulisan yang kudus dan diwahyukan yang harus kita hormati dan percayai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan implikasi yang luar biasa pentingnya dari ayat 2 bagi doktrin Alkitab kita. Pertama-tama ada Allah; kemudian ada janji yang Allah dikehendaki Allah untuk diperbuat; lalu ada nabi-nabi yang “dengan perantaraan” mereka (Perhatikan: bukan “oleh” mereka, tetapi “dengan perantaraan” mereka, Allah tetap sebagai pembicara) Allah mengucapkan janji-Nya; lalu ada tulisan-tulisan; dan tulisan-tulisan ini disebut kudus. Mengapa disebut kudus – dipisahkan dari semua tulisan lain dan unik serta berharga? Karena Allah yang berbicara di dalamnya. Bacalah ayat ini dengan hati-hati: Dia [Allah] menjanjikan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci. Allah berjanji di dalam Alkitab. Allah berbicara di dalam Alkitab. Ini yang membuat tulisan-tulisan itu kudus. Ini adalah pemahaman Paulus tentang Alkitab dan juga seharusnya adalah pemahaman kita. Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa di halaman depan Alkitab kita tertulis “Kitab Suci,” Roma 1:2 adalah jawabannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan agar keterkaitan langsung ini tidak luput dari perhatian kita dalam eksposis kitab Roma, kita perlu ingat tiga hal:&amp;lt;br&amp;gt;1. Paulus melihat dirinya di 1:1 sebagai seorang rasul Kristus Yesus, dia berbicara dan menulis dengan penuh kuasa Kristus sebagai seorang pendiri gereja. Dengan kata lain, seperti salah seorang nabi di masa lalu (Efesus 2:20).&amp;lt;br&amp;gt;2. Paulus mengatakan di 1 Korintus 2:13, “Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” Dengan kata lain, Paul mengklaim akan adanya suatu wahyu khusus di dalam pengajarannya.&amp;lt;br&amp;gt;3. Dalam 2 Petrus 3:16, Petrus mengatakan bahwa sebagian “orang memutarbalikkan [surat Paulus], sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” Dengan demikian Petrus menempatkan surat-surat Paulus ke dalam kategori yang sama dengan Kitab Suci yang kita baca sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebabnya khotbah begitu penting di dalam kehidupan kita bersama. Kita percaya bahwa surat Paulus kepada jemaat di Roma adalah firman Tuhan, bukan hanya perkataan manusia. Injil dijanjikan di dalam kitab suci yang diwahyukan Allah; dan Injil disingkapkan dan dilestarikan bagi kita di dalam kitab suci yang diwahyukan Allah. Ini yang kita percayai, dan ini menimbulkan perbedaan yang luar biasa dalam cara kita memandang kebenaran dan doktrin dan khotbah dan ibadah dan segala sesuatu di dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian hal pertama yang dikatakan Paulus tentang Injil Allah adalah bahwa Injil direncanakan dan dinubuatkan jauh sebelumnya (1:2). Ini adalah Injil “yang telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tentang Anaknya, …”&amp;lt;br&amp;gt;Hal kedua yang dia katakan tentang Injil Allah (1:3) adalah bahwa Injil ini adalah tentang anak-Nya. “…Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, …” Injil Allah berhubungan dengan Anak Allah. Kita perlu segera menjelaskan dua hal tentang Anak Allah, agar kita tidak jauh tersesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anak Allah telah ada sebelum Ia menjadi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat Roma 8:3, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging.” Allah mengutus dia untuk mengambil rupa manusia. Dengan demikian Sang Anak ada sebagai Anak Allah sebelum dia menjadi manusia. Ini artinya Kristus sekarang dan dahulu adalah Anak Allah secara unik – tidak seperti kita yang juga merupakan anak-anak Allah (Roma 8:14, 19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kristus sendiri adalah Allah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Roma 9:5, tentang keistimewaan Israel, Paulus mengatakan, “Mereka [yaitu Israel] adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Dan di Kolose 2:9 Paulus mengatakan, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Dengan demikian ketika Paulus mengatakan bahwa Injil Allah tentang Anak-Nya, maksudnya Injil ini berhubungan dengan Anak yang ilahi dan ada sejak semula. Injil Allah bukan tentang Allah mengatur urusan manusia menjadi lebih baik. Injil Allah adalah tentang Allah menerobos urusan manusia dari luar di dalam diri Anak-Nya yang merupakan gambar Bapa yang sempurna dan merupakan Allah sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian Paulus memberikan penekanan yang kuat atas “Injil Allah” dengan mengatakan, pertama, bahwa ia dijanjikan – direncanakan – oleh Allah jauh sebelum ia muncul, dan, kedua, bahwa ia berhubungan dengan Anak-Nya yang ilahi. Pencipta alam semesta yang berdaulat telah merencanakan kebaikan bagi dunia, dan di pusat rencana ini adalah Anak-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud…”&amp;lt;br&amp;gt;Hal ketiga yang dikatakan Paulus tentang Injil Allah adalah bahwa Sang Anak yang ilahi ini “menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud.” Kalimat ini secara bersamaan mengatakan dua hal: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anak Allah menjadi seorang manusia.&amp;lt;br&amp;gt;Dia dilahirkan. Pekerjaan yang harus Dia lakukan – misi Dia – menuntut Dia untuk mengambil natur manusia, bersamaan dengan natur ilahinya. Allah tidak memilih seorang manusia dan menjadikan dia anak-Nya; Dia memilih untuk menjadikan Anak-Nya yang tunggal dan kekal sebagai manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dia dilahirkan di dalam garis keturunan Raja Daud dari Perjanjian Lama&amp;lt;br&amp;gt;Mengapa ini adalah bagian dari Injil Allah? Mengapa ini adalah kabar baik? Jawabannya adalah semua janji-janji Perjanjian Lama bergantung kepada kedatangan Mesias – Yang diurapi – yang akan memerintah sebagai raja di dalam garis keturunan Daud dan menaklukkan musuh-musuh umat Allah serta membawa keadilan dan damai sejahtera selamanya. Dia akan menjadi “Ya” bagi semua janji-janji Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan beberapa janji-janji Perjanjian Lama. Yeremia 23:5, “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.” Atau Yesaya 11:10, “Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai [yaitu Anak Daud, keturunan Isai] akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian Injil Allah adalah kabar baik yang sekarang, setelah ratusan tahun, diwujudkan Allah untuk menggenapi rencana dan janji-Nya bahwa seorang raja akan datang dari garis keturunan Daud, dan, sebagaimana dikatakan Yesaya 9:6-7, “Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian “Injil Allah” adalah kabar baik bahwa waktunya telah genap dan kerajaan Allah sudah dekat (Markus 1:14-15, “Yesus datang ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ‘Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!’”). Kedatangan Anak Allah ke dalam dunia adalah kedatangan “Anak Daud,” Raja yang dijanjikan. Dia akan memerintah bangsa-bangsa dan mengalahkan musuh-musuh Allah serta memerintah dengan keadilan dan damai sejahtera dan, menurut Yesaya 35:10, “Orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” Itulah yang membuat ayat 3 “Injil Allah.” Kedatangan Anak Allah sebagai Anak Daud akan berarti sukacita abadi di hadapan Allah – bagi orang-orang yang dibebaskan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa”&amp;lt;br&amp;gt;Ada satu hal lagi yang Paulus katakan tentang “Injil Allah.” Injil Allah bukan hanya direncanakan dan dijanjikan sebelum realisasi; dan Injil Allah bukan hanya tentang Anak Allah yang ilahi dan ada sejak semula; dan Injil Allah bukan hanya kabar bahwa Sang Anak ini telah dilahirkan sebagai Anak Daud untuk menggenapi harapan dan impian Perjanjian Lama tentang keadilan dan damai sejahtera dan sukacita di dalam kerajaan Allah; tetapi di ayat 4, Paulus mengatakan sesuatu yang secara bersamaan mengejutkan dan menggembirakan. Dia mengatakan bahwa Anak Allah “dinyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Ny dari antara orang mati, menurut Roh kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa saya mengatakan ini mengejutkan? Kebanyakan orang Yahudi di zaman Paulus mengharapkan Mesias akan datang dengan kuasa secara politis, dan akan mengalahkan pemerintah dunia yang menindas, orang Romawi, dan mendirikan kerajaan dunia di Yerusalem dan hidup berkemenangan selamanya bersama umat-Nya. Tetapi dari apa yang dikatakan Paulus di ayat 4 tersirat bahwa di antara ayat 3 dan 4 Anak Daud mati. Dia mati! Mereka yang mengira Dia adalah Mesias terkejut. Mesias mestinya tidak mati. Dia hidup dan menaklukkan dan memerintah. Dia tidak ditangkap dan dipukul dan dihina dan disalibkan serta membiarkan umat-Nya terlantar. Ini sungguh mengejutkan. (Lukas 24:21, “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus akan kembali membicarakan kematian Kristus di pasal 3 dan 5 dan 8. Tetapi untuk sekarang ini dia segera membahas catatan menggembirakan tentang kemenangan pada Injil Allah. Mesias yang mati ini, Paulus katakana di ayat 4, dibangkitkan dari antara orang mati. Ini adalah jantung dari Injil Allah. Dan Paulus mengatakan dua hal tentang kebangkitan ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kebangkitan dari antara orang mati ini adalah “menurut Roh kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya ini? Menurut saya ini paling sedikit mempunyai dua arti: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Roh Allah yang kudus membangkitkan Yesus dari antara orang mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mendapat petunjuk dari Roma 8:11 di mana Paulus berkata, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Ini mengajarkan bahwa kita akan dibangkitkan oleh Roh Allah yang diam di dalam kita, sebagaimana Kristus dibangkitkan. Dengan demikian Roh dilibatkan dalam membangkitkan Yesus dari kematian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Tetapi mengapa Paulus memakai istilah yang tidak lazim, “Roh kekudusan” (tidak ditemukan di tempat lain di Perjanjian Baru)?&amp;lt;br&amp;gt;Ini usul saya. Berhubungan dengan orang mati adalah urusan yang menjijikkan. Ketika Raja Saul ingin berkomunikasi dengan orang mati dia pergi ke perempuan pemanggil arwah (1 Samuel 28:7 dst.), dan ini adalah sebuah usaha yang serba rahasia dan melanggar hukum. Pemanggil arwah, peramal, dan perdukunan merupakan hal-hal yang terkutuk di Israel. Ketika orang mati meninggal, kita membiarkan mereka dan tidak berurusan lagi dengan mereka. Berkomunikasi dengan arwah adalah sesuatu yang tidak dibenarkan bagi orang percaya. Berhubungan dengan orang mati merupakan sejenis ilmu hitam, bukan sesuatu yang indah, bersih, dan kudus. Berbicara tentang orang mati yang dieksekusi dibangkitkan dari orang mati pasti kedengarannya sungguh mengerikan dan menjijikkan, seperti ilmu hitam dan perdukunan. Bertolak belakang dengan ini Paulus menekankan yang sebaliknya: Kristus dibangkitkan dari antara orang mati menurut Roh kekudusan, bukan roh kegelapan atau roh jahat, tetapi Roh Allah sendiri yang terlebih-lebih ditandai dengan kekudusan. Dia tidak menjadi tercemar karena membangkitkan Yesus. Ini merupakan sesuatu yang kudus untuk dilakukan. Ini adalah benar dan baik dan bersih dan indah dan memuliakan Allah, bukan meremehkan Allah. Ini adalah kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dengan kebangkitan ini Kristus “dinyatakan Anak Allah yang berkuasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan kunci di sini adalah “yang berkuasa.” Saya kira Alkitab bahasa Inggeris versi NASB dan KJV dan RSV benar dengan menunjukkan bahwa frase ini menerangkan “Anak Allah.” Maksudnya bukanlah bahwa Kristus bukan Anak Allah sebelum kebangkitan. Maksudnya adalah pada kebangkitan Kristus bergerak dari Anak Allah di dalam kerendahan dan keterbatasan dan kelemahan manusia menjadi Anak Allah yang berkuasa. Perkataan kuncinya adalah “yang berkuasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah maksud Yesus ketika dia mengatakan setelah kebangkitan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Ini adalah maksud Paulus di 1 Korintus 15:25-26 ketika dia berbicara tentang Kristus yang bangkit, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.” Dengan kata lain, Yesus adalah Raja Mesianik. Dia sedang memerintah sekarang atas seluruh bumi. Dia sedang meletakkan semua musuhnya di bawah kakinya. Akan tiba waktunya ketika Dia menerobos dari pemerintahan-Nya yang tidak kelihatan dengan kemuliaan yang kelihatan dan mendirikan kerajaan-Nya secara terbuka dan mulia di atas bumi. Itu yang Paulus maksudkan dengan “Anak Allah yang berkuasa.” Dia sedang memerintah sekarang. Dia sedang mewujudkan tujuanNya melalui Roh-Nya dan gereja-Nya. Dan akan tiba saatnya ketika Kristus akan mengalahkan semua musuh, dan setiap lutut akan bertekuk dan mengaku bahwa Dia adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Filipi 2:10-11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan merupakan konsumasi dari Injil Allah. Kepadanya kita berkata, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus.”&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Peterdewiho</name></author>	</entry>

	</feed>